Kurang lebih tiga setengah tahun sudah kutekuni perjalananku sebagai seorang guru. Sebuah profesi yang kupilih untuk kujadikan jalan hidupku (setidaknya sampai hari ini). Dulu, sebelum kupilih untuk menjadi guru, rasanya aku memang telah jatuh cinta dengan profesi itu. Aku masih ingat, waktu kecil salah satu cita-citaku adalah menjadi guru TK. Entah mengapa, tapi mungkin karena aku memang suka berada di antara anak-anak. Karena dorongan itulah waktu aku kuliah, aku memutuskan untuk bergabung dengan LSM Edukasi Dasar dan menjadi relawan guru di sana. Di sana aku berhadapan dengan sebuah realita pahit kehidupan saat melihat begitu banyak anak yang putus sekolah karena harus membantu orang tua mencari nafkah dengan menjadi pemulung. Dengan mata kepala sendiri kulihat anak usia tiga hingga belasan tahun menenteng karung dan berjalan menyusuri pinggiran kota demi mendapat gelas dan botol plastik. Syukur-syukur mereka bisa menemukan potongan besi yang tentunya lebih mahal saat dijual.
Di LSM Edukasi Dasar-lah aku bertemu dengan anak-anak belasan tahun yang mungkin menganggapku seperti seorang kakak, meskipun mereka menyapaku dengan sebutan “Bu”. Salah satu anak yang cukup dekat padaku adalah “B”. B adalah anak ketiga dari 8 bersaudara. Waktu aku mengajarnya di LSM, ia termasuk yang cukup mudah menerima materi. Sayangnya kadang ia malas untuk datang. Ia serta beberapa anak yang lain kuajarkan materi-materi kelas 4, 5 atau 6, karena mayoritas dari mereka putus sekolah dari SD sekitar kelas 4. Dengan semangat dan idealisme para relawan, kami dorong mereka untuk ikut ujian Paket A (ujian kesetaraan SD). Dengan berapi-api kami jelaskan pada mereka manfaat ijazah, dengan harapan suatu saat mereka juga akan mengikuti ujian Paket B dan C. Sayang seribu sayang, dengan kesibukan para relawan setelah bekerja, kami tak mampu lagi menyediakan waktu untuk datang dan mengajar di LSM. Aku tak tahu seberapa besar semangat B dan teman-temannya tersisa untuk terus belajar demi mendapat ijazah.
Beberapa waktu lalu aku bertemu B di situs jejaring sosial Facebook. Sebelumnya sering kudengar kabar kalau ia menjadi kenek angkot yang disupiri kakaknya. Betapa senang rasanya bisa mengetahui bahwa B baik-baik saja, tapi kini ia bilang ia tak lagi bekerja. Ia bahkan mengharapkan aku bisa membantunya mencari kerja, kerja yang tanpa memerlukan ijazah. Ingin sekali aku bisa membantunya, namun aku sendiri pun tak tahu kerja macam apa pada masa kini yang tak perlu ijazah. Kalaupun ada, tentunya tanpa gaji yang layak. Yang bisa kukatakan padanya hanyalah bahwa aku akan menghubunginya jika ada lowongan yang kudengar.
Sering ku berpikir, apa memang kita masih menganut pendapat sekolah hanya demi selembar ijazah. Jika pada kasus B, memang selembar ijazah akan sangat membantunya memperoleh penghidupan yang lebih layak. Namun sesungguhnya, selembar ijazah tak sanggup memberikan pelajaran hidup yang cukup bagi seorang anak. Keseharianku kini bagai menghadapi dilema. Aku adalah seorang wali kelas 6. Beberapa bulan ini mereka akan menghadapi UASBN. Sungguh aku kecewa dengan kurikulum nasional yang amat content-oriented. Begitu banyak materi yang harus mereka kuasai namun hampir semuanya tanpa pemahaman yang mendalam. Bagaimana mungkin mereka bisa memahami semua materi yang disyaratkan dengan mendalam jika dalam 6 tahun mereka belajar, ada segudang hal yang harus mereka hapalkan? Bagi orang dewasa saja hal itu tak mungkin dilakukan. Pada murid-muridku selalu kukatakan bahwa belajar adalah suatu hal yang tak ada putusnya. We are life-long learners. Namun demikian, tak jarang juga dari bibirku terucap ungkapan-ungkapan yang “hanya” berorientasikan pada kata “lulus” dan “ijazah”. Duh, dilematis rasanya. Aku tak ingin mereka punya pikiran bahwa sekolah itu “hanya” demi selembar ijazah. Sekolah punya makna yang jauh lebih dalam. Kuharap, pada saatnya nanti mereka mengerti bahwa kita sekolah tak hanya demi selembar ijazah. Ijazah memang penting, namun bukan itu tujuan sebuah lembaga bernama “sekolah” dibuat. Sekolah ada untuk mengasah pikiran dan hati. Sekolah ada untuk merayakan pengetahuan. Sekolah ada untuk mendidik manusia mencintai ilmu. Guru ada demi membantu murid-muridnya menemukan jalan hidup yang ingin mereka tapaki…
I like a teacher who gives you something to take home to think about besides homework. ~ Lily Tomlin as “Edith Ann”
Good quote! Thanks for the comment, gan
hi Ika,
biarpun akhirnya B tidak punya selembar pun ijazah, you have inspired him to be a good person, showed him how a person should become. Sekolah buat B bukan selembar ijazah, sekolah buatnya adalah kesempatan melihat dunia yang lain, yang memberikan kasih sayang, yang memperlihatkan jalan yang benar, yang memperkenalkan moralitas. Seandainya sekolahnya bisa memberikan lebih daripada itu…
Menyedihkan memang kurikulum kita saat ini. Sayang sekali bila murid hanya mengejar ijazah dan bukan diajari untuk mencintai ilmu, mencintai belajar, menemukan potensi dirinya. Ngga kebayang bagaimana beratnya menjadi guru di tengah himpitan kurikulum seperti ini. Semoga tantangan ini ngga pernah terlalu berat untuk dijalani ya Ka.
rinta, makasih ya buat comment-nya. iya nih, kadang rasanya mengkhianati pendidikan itu sendiri kalau terlalu kasih emphasis ke “belajar biar lulus”. pinginnya kurikulum nasional itu direvisi. maybe someday ya…