goresan ika

the world through my eyes

Aku mungkin (bukan) pemberani January 28, 2012

Filed under: my life — goresanika @ 9:59 am
Tags: ,

Sepanjang hidupnya, manusia dihadapkan pada berbagai pilihan. Terlepas dari membuat pilihan yang mudah, semacam memilih baju warna apa yang akan dipakai, hingga pilihan yang sulit, semacam menerima atau menolak sebuah tugas.

Beberapa waktu lalu aku dihadapkan pada sebuah pilihan yang (menurutku) sulit. Menerima tugas yang diberikan, atau menolak. Penolakan jelas bukan harapan dari pihak yang memberi tugas. Mereka memang terlihat berharap aku dapat menerima dengan lapang dada penugasan tersebut. Namun masalahnya, tugas tersebut tidak sesuai dengan apa yang kusebut dengan “passion“-ku. Aku dihadapkan pada sebuah pilihan. Diam saja dan menjalankan tugas tersebut, atau menyampaikan keberatanku. Pilihan yang kedua mungkin tak pernah terpikirkan oleh sang pemberi tugas, karena technically, aku seharusnya tak bisa atau tak akan menolak, mengingat hal itu adalah sebuah promosi, sekaligus perintah.

Berbekal perhitungan akan hal terburuk yang mungkin terjadi, kuberanikan diri untuk memilih pilihan kedua–menyampaikan keberatanku, beserta beberapa alasan yang kupikir dapat memperkuat keputusanku. Ya, seperti sudah kuduga, terjadi benturan di sana sini, karena terus terang, budaya menolak, bukan sebuah budaya yang lazim di sana.

Kusampaikan betapa aku merasa tersanjung atas penugasan tersebut, namun tak bisa dipungkiri bahwa hati kecilku tidak merasakan kedamaian. Itu bukan passion-ku.

Orang lain mungkin menganggap aku tak dapat keluar dari comfort zone-ku. Aku mungkin terlalu dini untuk menolak tawaran tersebut, padahal aku belum mencobanya. Mereka mungkin punya berbagai pikiran tentang keputusanku, namun sungguh, kali ini aku merasa benar-benar harus memperjuangkan hakku. Aku mungkin bukan pemberani. Aku mungkin dianggap telah kalah sebelum berjuang. Aku mungkin seorang pengecut. Tapi maaf, aku telah memilih.

Lalu kuberpikir, apa memang aku berhak menolak? Well, jujur, kurasa aku berhak. Tanpa bermaksud lancang atau sombong, aku merasa bahwa setiap orang berhak untuk mempertimbangkan, mempertanyakan, menerima, maupun menolak. Ketika hati tak merasa damai, bukankah itu tanda untuk bertindak?

Ketika kuputuskan untuk menyampaikan keberatanku, terbayang segala macam konsekuensi yang mungkin kuterima. Kutanya diriku apakah aku siap menerima konsekuensi yang akan kudapati. Mau tidak mau aku memang harus siap. Segala pilihan memiliki konsekuensi, namun paling tidak, aku sudah berjuang, berjuang untuk menyuarakan pendapatku.

Salah satu konsekuensi yang muncul adalah ketidakenakan dengan beberapa orang. Tanpa kuinginkan, ada beberapa orang yang secara tidak langsung terkena imbas dari keputusanku. Dan sungguh, aku menyesal telah menempatkan mereka dalam situasi tersebut. Semoga suatu saat, hubungan-hubungan tersebut dapat kuperbaiki.

Mohon maaf jika keputusanku mengecewakan banyak orang, namun aku tak ingin menjalani sesuatu yang bukan merupakan passion-ku. Izinkan kali ini aku menjadi seorang pemberani. Seorang yang berani menolak.

Courage is the most important of the virtues, because without courage you can’t practice any other virtue consistently. You can practice any virtue erratically, but nothing consistently without courage. (Maya Angelou)

#Eh eh…tulisan ini tidak provokatif kan ya? :D

#justthinking

 

 

Ms. D January 27, 2012

Filed under: my life — goresanika @ 10:07 pm
Tags:

Picture source: http://www.studentsoftheworld.info/sites/society/img/30190_DJABBIC.JPG

Panggil saja dia Ms. D. Perawakannya sedang, tidak terlalu tinggi, namun tidak juga pendek. Ada yang menarik tentangnya. Kucoba memperhatikan dirinya dengan lebih seksama. Ah, itu dia. Akhirnya kutemukan hal itu. Matanya. Yup, matanya yang tajam.

Kami tidak bisa dibilang akrab. Jika bertemu, paling-paling kami hanya bertukar senyum, namun tak banyak bicara. Kami memang tidak terlalu mengenal secara personal, namun dari yang kudengar, Ms. D adalah orang yang tegas.

Hari itu jadwalku mengajar di SMU. The Six Most Important Decisions You’ll Ever Make, sebuah pelajaran yang bisa dibilang mengajarkan life skills. Ilmu kehidupan tentang bagaimana menjadi remaja yang efektif. Biasanya guru-guru yang terlibat lebih bertindak sebagai fasilitator. Kami lebih suka mengambil insights dari para siswa, karena sebenarnya jam pelajaran tersebut didedikasikan bagi siswa untuk bereksplorasi, berefleksi, dan mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain. Kami tak ingin pengajarannya bersifat satu arah. Kami ingin mendengar mereka berbicara. Ini kan hidup mereka. Kami hanya berusaha mengarahkan mereka untuk menemukan cara mereka sendiri, yang sesuai bagi mereka untuk menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.

Ketika aku mengajar, Ms. D ada di situ. Ia sedang mengerjakan sesuatu namun sesekali kulihat ia tampak berhenti sebentar dan turut menyimak perbincangan kami. Aku lupa topik apa yang kami bicarakan, kalau tidak salah mengenai self-worth–nilai diri.

Selesai mengajar aku bergegas kembali ke kelas. Saat mendekati kantin kusadari bahwa Ms. D ada di belakangku. Aku memperlambat langkahku dan kami berhenti untuk berbicara sebentar. Ada satu hal yang membuatku sungguh terharu. Ms. D menyampaikan bahwa aku merupakan salah seorang  yang ia kagumi. Tentu saja aku kaget luar biasa. Kami jarang berbicara, namun ia menyampaikan hal yang begitu baik tentangku. Kami pun bertukar pikiran sejenak mengenai beberapa hal. Itulah pertama kalinya aku dan Ms. D berbicara cukup lama.

Selepas hari itu aku merasa telah salah menilai Ms. D. Pada awalnya kupikir pribadi yang tegas adalah pribadi yang kaku. Namun setelah kejadian itu aku sadar bahwa pandanganku salah. Ternyata Ms. D adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan untuk diajak bertukar pikiran. Ia pribadi yang lugas, berwawasan luas, dan memiliki prinsip. Aku pun belajar banyak darinya.

Hari ini, tanpa diduga, Ms. D menghampiriku saat kami menunggu acara perpisahan seorang teman dimulai. Ia mengajukan pertanyaan tentang suatu hal yang memang menjadi beban pikiranku beberapa minggu ini. Dan aku pun terharu. Meskipun aku tak pernah  membicarakan hal ini dengannya, tampaknya ia tahu bahwa hal ini menggangguku. Tanpa ragu ia memberitahuku pandangannya dan memberi semangat. Ia memberikan encouragement, motivasi, dan sungguh terlihat betapa ia mencoba memahami posisiku.

Hidup memang penuh kejutan. Kejutan menyenangkan dapat datang dari mana pun, tanpa diduga. Aku belajar betapa menilai seseorang dari luar adalah sebuah kesalahan.

Terima kasih Ms D. I learn a lot from you…

 

A Thousand Years – Christina Perri January 21, 2012

Filed under: my world — goresanika @ 9:16 am

Love the song. This is one of the songs you’ll never get bored with…

 

We Want Everything To Stay the Same? January 6, 2012

Filed under: my life — goresanika @ 7:02 pm
Tags: , ,

While reading Aleph by Paulo Coelho this afternoon, I came across this part which was really interesting for me (although when you read Mr Coelho’s work, chances are you will experience this quite often :D ).

‘Is it possible to fix love and make it stand still in time? Well, we can try, but that would turn our lives into a hell. I haven’t been married for more that twenty years to the same person, because neither she nor I have remained the same. That’s why our relationship is more alive than ever. I don’t expect her to behave as she did when we first met. Nor does she want me to be the person I was shen I found her. Love is beyond time, or rather, love is both time and space, but all focused on one single constantly evloving point – the Aleph.’

‘People aren’t used to that way of thinking. They want everything to stay the same…’

‘…and the consequence of that is pain,’ I say, interrupting the speaker: ‘We are not the person other people wish we were. We are who we decide to be. It’s always easy to blame others. You can spend your entire life blaming the world, but your successes or failures are entirely your own responsibility. You can try to stop time, but it’s a complete waste of energy.’ (Aleph, pages 124-125)

We (sometimes) want everything to be the same. Well, I know I do. When it comes to my relationship with my boyfriend, I often expect him to act like the first time we had a date. Times when we weren’t officially a couple yet, were the sweetest times, or so I thought. I sometimes missed his spontaneous acts, his sweet messages, his surprises and other things I consider as “sweet”. I thought those sweet things were the measurement of his love to me. I jumped into a conclusion that if he wasn’t THAT sweet anymore, it meant that he didn’t REALLY love me as much as he were at the first time.

You see, it’s dangerous to hold on to a thought like that. I leads to disappointment, mistrust and any other negative feelings. And yeah, we had a fight over it. Not only once, but several times. It took me quite some time to realize that the LOVE hasn’t changed at all. It’s how he shows it that develops. He still sends me sweet messages, although not as often as before. But, it doesn’t really matter, since I know how he feels for me. The way he shows affection develops. Of course I love sweet messages and surprises, but the most important thing for  me now is knowing that despite all my weaknesses, there’s someone who loves me for who I really am.

After reading this part from Mr Coelho’s book, I was reminded that if I CHANGE my perspective, our relationship will be much more alive. People change. We are always new every day. How fun and exciting it is to view our better half as “someone” new, someone who experiences growth in his/her soul every day, someone who wants to know more about us and experience “NEW” things with us every single day.

Frankly, I’m not used to thinking like this either. I just thought that it’s worth trying. Love is beyond time. Love is fresh every single day. The person we love “changes”. Embrace those changes and celebrate the “new” love every day…

 

Men are territorial creatures January 2, 2012

Filed under: my life — goresanika @ 10:29 pm
Tags: ,

Men are territorial creatures, demikianlah “ilmu” yang  saya dapat setelah berdiskusi dengan pacar di sebuah tempat makan dalam sebuah mal di wilayah Depok. Awalnya kami berdiskusi mengenai bagaimana komunikasi seringkali menjadi hambatan dalam sebuah hubungan, khususnya antara laki-laki dan perempuan. Kesalahpahaman dan konflik seringkali diakibatkan oleh komunikasi yang kurang baik dan salah satu penyebabnya adalah kita seringkali menganggap pasangan harusnya sudah tahu apa yang ada di pikiran kita.

Pada masa awal hubungan kami, konflik kecil maupun besar sering terjadi. Kami berdua berada dalam tahap mengenal pasangan lebih dalam. Banyak sifat-sifat pasangan yang tersingkap dan saya yakin dia pun cukup kewalahan mendapati sifat-sifat saya yang mungkin tidak diduganya. Pada tahun-tahun berikutnya kami belajar untuk menerima pasangan apa adanya. Amat sangat tidak mudah untuk menerima hal-hal yang mungkin berbeda dari harapan kita, namun di sinilah peran komunikasi amat krusial. Kami belajar untuk berkompromi, mencari jalan tengah yang mungkin bisa menjadi solusi. Perlahan, saya dan pasangan mulai melihat perubahan positif. Kami belajar menempatkan masalah menjadi urusan bersama dan sedapat mungkin mencari solusi bersama.

Picture source: www.zimbio.com

Nah, sehubungan dengan hal itu, kemarin ia mengungkapkan bahwa ada hal-hal yang laki-laki tidak suka jika sang pasangan “meributkan”-nya. Ada wilayah “terlarang” dimana dalam wilayah tersebut hanya ada dirinya. Sang pacar menyebutkan beberapa contoh, misalnya hobi, otomatif, dan gadget. Saya ingat suatu kali saya menonton pertandingan sepakbola dimana tim favoritnya bermain. Sepanjang pertandingan ia sungguh-sungguh terpaku pada layar, seolah-olah saya tak ada di sampingnya. Jika saya bertanya, ia malas-malasan menjawab. Kala itu saya mulai berpikir negatif, namun akhirnya saya memahami bahwa kesalahan terletak pada kami berdua. Kami belum pernah mengkomunikasikan hal itu. Selepas kejadian tersebut saya belajar memberinya waktu untuk menikmati hobinya. Waktu pribadi dimana ia dapat menikmati hobinya dengan utuh, tak terpecah.

Laki-laki kadang tak suka jika pasangannya mengutak-atik HP atau laptopnya, atau berkomentar pahit ketika ia menghabiskan banyak biaya demi hobinya. Hal ini karena ia beranggapan bahwa barang-barang tersebut adalah wilayah khusus dirinya. Mungkin sama halnya ketika perempuan tak suka dikomentari ketika menghabiskan banyak biaya demi “guilty pleasure“-nya, entah itu sepatu, tas, kosmetik, atau dalam kasus saya, buku dan stationery :).

Contoh lain dari “men are territorial creatures” pun bisa dilihat ketika makan bersama teman-teman. Amat sangat jarang kita jumpai laki-laki akan saling mencicipi makanan orang lain, sementara amat lazim kita jumpai perempuan saling mencicipi. Laki-laki menganggap bahwa makanan di piring adalah teritori masing-masing, sementara perempuan mungkin menganggap piringku dan piringmu adalah teritori bersama :D .

Ada banyak kejadian-kejadian lain dimana saya kadang “melanggar” teritorinya. Setelah diskusi kemarin, saya akhirnya sadar bahwa menghormati privasi pasangan adalah suatu bentuk komunikasi yang powerful.

By the way, saya tidak bermaksud menjadi gender-biased di sini. Ini hanyalah sepenggal pengalaman yang ingin saya bagikan. Selamat belajar berkomunikasi…

 

My first post in 2012! Yeay! January 1, 2012

Filed under: my life — goresanika @ 10:22 pm
Tags: ,

Happy New Year! Wow, it’s 2012 already! Time really flies and leaves us wondering about what sort of colours did we put in 2011. Time flies, but memories linger. Some memories we choose to stay, and some others…well…we let them fade away. Both to nourish our soul.

Everybody seems to have their resolutions ready for 2012. Frankly, I’m not the type of person who plan those kinds of things. A few days ago, I did wonder about my resolutions. I asked myself whether I needed one. For your information, I’m very lousy when it comes to working on resolutions. And so, I decided not to think about it seriously.

However, two days ago, when I was reading Aleph, the latest book of Paulo Coelho, I came across this paragraph.

I’ve never felt awkward about asking. I’ve known lots of people who care about others and are extremely generous when it comes to giving and who feel real pleasure when someone asks them for advice or help. And that’s fine, it’s a good thing to help your neighbor. On the other hand, I know very few people capable of receiving even when the gift is given with love and generosity. It’s as if the act of receiving made them feel inferior, as if depending on someone else was undignified. They think is someone is giving us something, that’s because we’re incapable of getting it for ourselves. Or else, the person giving me this now will one day ask for back with interest. Or, even worse, I don’t deserve to be treated well. (page 97)

I was struck by it! I pondered on the paragraph. I read it several times and I felt like it talked about ME. Something told me that I was the person Mr Coelho was talking about. One of those people who find it hard to receive. It doesn’t mean that I’m not aware of this trait, but I never consider it as something that gives a bad influence in social relationships.

I grew up in a family that believes that giving is better than receiving (or so I thought). It was a virtue that was nurtured since I was little. I never find it hard to share, to give, to help. But when I really thinking about it, it is sometimes harder for me to receive, whether to receive help from friends, colleagues and even boyfriend. Of course giving is a virtue, but that doesn’t make receiving isn’t. I remembered Mother emphasized on how good it was to share with my sisters, but I forgot the other side of her teaching, which was being able to receive.

I looked back and pictured some events in my life when I had difficulties receiving. I remembered when I first had a teaching partner. I was a homeroom teacher and I worked together with a co-teacher. It was quite difficult for me at first to share responsibilities with her. And it was not because I didn’t trust her. She was a very capable lady, no doubt about that. It was because I wasn’t familiar yet with the situation where I should be able to receive help. I was always the one who gave help, and when I was in the opposite position, I failed to do it.

A friend of mine once recognized this issue and she advised me not to be too perfectionist and  to learn to share responsibilities, because my partner could have gotten a wrong impression upon how I acted. I thought about what she said and here I am, a few years later, gazing on the same advice.

Mr Coelho’s words were very strong. I was afraid that my reluctance to receive help was connected with my own perception about myself. I tried to figure out which reasons make me difficult to receive. I couldn’t conclude, because all reasons stated in the paragraph seemed possible in my case.

So, I decided to have a resolution this year. I choose to learn to receive. I will do that and try to erase the idea that receiving is lower than giving. I will choose to view myself as deserving to be treated well and I seriously think I need to work on my self-confidence.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 80 other followers