Men are territorial creatures, demikianlah “ilmu” yang saya dapat setelah berdiskusi dengan pacar di sebuah tempat makan dalam sebuah mal di wilayah Depok. Awalnya kami berdiskusi mengenai bagaimana komunikasi seringkali menjadi hambatan dalam sebuah hubungan, khususnya antara laki-laki dan perempuan. Kesalahpahaman dan konflik seringkali diakibatkan oleh komunikasi yang kurang baik dan salah satu penyebabnya adalah kita seringkali menganggap pasangan harusnya sudah tahu apa yang ada di pikiran kita.
Pada masa awal hubungan kami, konflik kecil maupun besar sering terjadi. Kami berdua berada dalam tahap mengenal pasangan lebih dalam. Banyak sifat-sifat pasangan yang tersingkap dan saya yakin dia pun cukup kewalahan mendapati sifat-sifat saya yang mungkin tidak diduganya. Pada tahun-tahun berikutnya kami belajar untuk menerima pasangan apa adanya. Amat sangat tidak mudah untuk menerima hal-hal yang mungkin berbeda dari harapan kita, namun di sinilah peran komunikasi amat krusial. Kami belajar untuk berkompromi, mencari jalan tengah yang mungkin bisa menjadi solusi. Perlahan, saya dan pasangan mulai melihat perubahan positif. Kami belajar menempatkan masalah menjadi urusan bersama dan sedapat mungkin mencari solusi bersama.

Picture source: www.zimbio.com
Nah, sehubungan dengan hal itu, kemarin ia mengungkapkan bahwa ada hal-hal yang laki-laki tidak suka jika sang pasangan “meributkan”-nya. Ada wilayah “terlarang” dimana dalam wilayah tersebut hanya ada dirinya. Sang pacar menyebutkan beberapa contoh, misalnya hobi, otomatif, dan gadget. Saya ingat suatu kali saya menonton pertandingan sepakbola dimana tim favoritnya bermain. Sepanjang pertandingan ia sungguh-sungguh terpaku pada layar, seolah-olah saya tak ada di sampingnya. Jika saya bertanya, ia malas-malasan menjawab. Kala itu saya mulai berpikir negatif, namun akhirnya saya memahami bahwa kesalahan terletak pada kami berdua. Kami belum pernah mengkomunikasikan hal itu. Selepas kejadian tersebut saya belajar memberinya waktu untuk menikmati hobinya. Waktu pribadi dimana ia dapat menikmati hobinya dengan utuh, tak terpecah.
Laki-laki kadang tak suka jika pasangannya mengutak-atik HP atau laptopnya, atau berkomentar pahit ketika ia menghabiskan banyak biaya demi hobinya. Hal ini karena ia beranggapan bahwa barang-barang tersebut adalah wilayah khusus dirinya. Mungkin sama halnya ketika perempuan tak suka dikomentari ketika menghabiskan banyak biaya demi “guilty pleasure“-nya, entah itu sepatu, tas, kosmetik, atau dalam kasus saya, buku dan stationery :).
Contoh lain dari “men are territorial creatures” pun bisa dilihat ketika makan bersama teman-teman. Amat sangat jarang kita jumpai laki-laki akan saling mencicipi makanan orang lain, sementara amat lazim kita jumpai perempuan saling mencicipi. Laki-laki menganggap bahwa makanan di piring adalah teritori masing-masing, sementara perempuan mungkin menganggap piringku dan piringmu adalah teritori bersama
.
Ada banyak kejadian-kejadian lain dimana saya kadang “melanggar” teritorinya. Setelah diskusi kemarin, saya akhirnya sadar bahwa menghormati privasi pasangan adalah suatu bentuk komunikasi yang powerful.
By the way, saya tidak bermaksud menjadi gender-biased di sini. Ini hanyalah sepenggal pengalaman yang ingin saya bagikan. Selamat belajar berkomunikasi…
Recent Comments