Sepanjang hidupnya, manusia dihadapkan pada berbagai pilihan. Terlepas dari membuat pilihan yang mudah, semacam memilih baju warna apa yang akan dipakai, hingga pilihan yang sulit, semacam menerima atau menolak sebuah tugas.
Beberapa waktu lalu aku dihadapkan pada sebuah pilihan yang (menurutku) sulit. Menerima tugas yang diberikan, atau menolak. Penolakan jelas bukan harapan dari pihak yang memberi tugas. Mereka memang terlihat berharap aku dapat menerima dengan lapang dada penugasan tersebut. Namun masalahnya, tugas tersebut tidak sesuai dengan apa yang kusebut dengan “passion“-ku. Aku dihadapkan pada sebuah pilihan. Diam saja dan menjalankan tugas tersebut, atau menyampaikan keberatanku. Pilihan yang kedua mungkin tak pernah terpikirkan oleh sang pemberi tugas, karena technically, aku seharusnya tak bisa atau tak akan menolak, mengingat hal itu adalah sebuah promosi, sekaligus perintah.
Berbekal perhitungan akan hal terburuk yang mungkin terjadi, kuberanikan diri untuk memilih pilihan kedua–menyampaikan keberatanku, beserta beberapa alasan yang kupikir dapat memperkuat keputusanku. Ya, seperti sudah kuduga, terjadi benturan di sana sini, karena terus terang, budaya menolak, bukan sebuah budaya yang lazim di sana.
Kusampaikan betapa aku merasa tersanjung atas penugasan tersebut, namun tak bisa dipungkiri bahwa hati kecilku tidak merasakan kedamaian. Itu bukan passion-ku.
Orang lain mungkin menganggap aku tak dapat keluar dari comfort zone-ku. Aku mungkin terlalu dini untuk menolak tawaran tersebut, padahal aku belum mencobanya. Mereka mungkin punya berbagai pikiran tentang keputusanku, namun sungguh, kali ini aku merasa benar-benar harus memperjuangkan hakku. Aku mungkin bukan pemberani. Aku mungkin dianggap telah kalah sebelum berjuang. Aku mungkin seorang pengecut. Tapi maaf, aku telah memilih.
Lalu kuberpikir, apa memang aku berhak menolak? Well, jujur, kurasa aku berhak. Tanpa bermaksud lancang atau sombong, aku merasa bahwa setiap orang berhak untuk mempertimbangkan, mempertanyakan, menerima, maupun menolak. Ketika hati tak merasa damai, bukankah itu tanda untuk bertindak?
Ketika kuputuskan untuk menyampaikan keberatanku, terbayang segala macam konsekuensi yang mungkin kuterima. Kutanya diriku apakah aku siap menerima konsekuensi yang akan kudapati. Mau tidak mau aku memang harus siap. Segala pilihan memiliki konsekuensi, namun paling tidak, aku sudah berjuang, berjuang untuk menyuarakan pendapatku.
Salah satu konsekuensi yang muncul adalah ketidakenakan dengan beberapa orang. Tanpa kuinginkan, ada beberapa orang yang secara tidak langsung terkena imbas dari keputusanku. Dan sungguh, aku menyesal telah menempatkan mereka dalam situasi tersebut. Semoga suatu saat, hubungan-hubungan tersebut dapat kuperbaiki.
Mohon maaf jika keputusanku mengecewakan banyak orang, namun aku tak ingin menjalani sesuatu yang bukan merupakan passion-ku. Izinkan kali ini aku menjadi seorang pemberani. Seorang yang berani menolak.
Courage is the most important of the virtues, because without courage you can’t practice any other virtue consistently. You can practice any virtue erratically, but nothing consistently without courage. (Maya Angelou)
#Eh eh…tulisan ini tidak provokatif kan ya?
#justthinking
Recent Comments