Pilihan. Kata orang hidup adalah tentang pilihan. Pilihan menentukan ke mana kita berjalan. Pilihan menentukan bagaimana kita berjalan. Pilihan menentukan dengan siapa kita berjalan. Pilihan menentukan sejauh mana kita mau berjalan dan kapan kita mau berhenti.
Confucius pernah berkata “Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life.” Well, he’s got a point. Kalau kita menyukai apapun itu yang kita kerjakan, niscaya tidak akan terasa berat. Tapi, bagaimana kalau kita menyukai APA yang kita kerjakan, namun kita tidak/kurang menyukai suasana di mana kita bekerja. Tafsiran ini bisa seluas yang kamu mau. Bisa saja ditafsirkan dengan hubungan antarteman, hubungan dengan atasan, nilai-nilai yang berbeda, atau bahkan penghasilan yang diterima. Menyukai apa yang kita kerjakan, kadang rasanya tak cukup untuk menahan kita bekerja di suatu tempat. Eits, tunggu dulu. Jangan dulu beranggapan bahwa orang yang berharap “sesuatu” dari tempat kerjanya bukanlah orang idealis. Hmm…menjadi idealis bukan berarti “berkorban” hingga sebesar-besarnya kan, sampai-sampai mungkin merugikan diri sendiri.
Menurutku ada banyak alasan orang memilih untuk bekerja. Ada yang merasa berguna jika ia bekerja, ada yang memenuhi panggilan hidupnya, ada yang bekerja untuk mencari nafkah demi penghidupan yang lebih baik, dan banyak lagi alasan-alasan personal lainnya. Nah, ada banyak alasan pula mengapa orang memilih untuk berpindah tempat kerja. Sah-sah saja kan jika seseorang mencari tempat kerja yang nyaman baginya. Meski demikian, ada pula temanku yang beranggapan bahwa di setiap tempat kerja, pasti ada tantangan yang harus dihadapi. Lamanya pencarian akan kenyamanan itu memang berbeda bagi tiap-tiap orang dan ukuran “nyaman” pun tentunya relatif. Semua itu amat sangat subjektif dan personal.
Sebenarnya latar belakang aku menulis ini adalah karena wacana yang berkembang di tempat kerja. Denger-denger ada sekitar 7-8 rekan kerjaku (part-timer & full-timer) yang sedang mempertimbangkan atau bahkan sudah ada yang pasti, memutuskan untuk berkarya di tempat lain. Kata pertama yang terlintas adalah “salut”. Mengapa salut? Well, menurutku mereka telah berhasil mengambil satu pilihan yang untukku pribadi terasa sulit. I truly hope they are getting closer to reaching their dreams. Ketujuh/kedelapan temanku ini adalah orang-orang dengan potensi besar yang masing-masing sedang menjajaki panggilan hidupnya. Salut rasanya ketika mengetahui mereka akhirnya dapat memutuskan untuk mengambil pilihan yang mungkin sudah digumulkan cukup lama.
Kemudian aku bertanya, apakah aku tidak salut terhadap teman-temanku yang memutuskan untuk tetap tinggal di lingkungan yang lama? Oh, tentu tidak. Aku pun salut kepada mereka. Mungkin memang mereka memilih untuk tinggal. Aku tak tahu tingkat kenyamanan yang mereka rasakan, namun aku pun salut mereka tetap punya harapan. Harapan bahwa tempat itu akan berubah mungkin, atau mungkin harapan bahwa suatu saat mereka pun akan mendapatkan pekerjaan di tempat lain hehehe…
Well, harapan itu selalu ada. Aku salut bahwa harapan membuat mereka bertahan. Mereka tetap menunggu dan terus melakukan apa yang harus mereka lakukan.
Aku akan amat kehilangan teman-temanku. Mereka telah memberi warna dalam kehidupanku. Saat mereka pindah tentu akan ada kehilangan, namun mudah-mudahan komunikasi akan terus berjalan. Selamat menapaki jalan yang baru, kawan. Semoga kalian semakin dekat dengan mimpi itu. Buat kawan-kawan yang tinggal, jangan berhenti berharap ya, apapun itu harapan kalian
*Dedicated to my colleagues
Recent Comments