goresan ika

the world through my eyes

Tentang Memilih April 11, 2010

Filed under: my life,my work — goresanika @ 1:44 pm
Tags:

Pilihan. Kata orang hidup adalah tentang pilihan. Pilihan menentukan ke mana kita berjalan. Pilihan menentukan bagaimana kita berjalan. Pilihan menentukan dengan siapa kita berjalan. Pilihan menentukan sejauh mana kita mau berjalan dan kapan kita mau berhenti.

Confucius pernah berkata “Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life.” Well, he’s got a point. Kalau kita menyukai apapun itu yang kita kerjakan, niscaya tidak akan terasa berat. Tapi, bagaimana kalau kita menyukai APA yang kita kerjakan, namun kita tidak/kurang menyukai suasana di mana kita bekerja. Tafsiran ini bisa seluas yang kamu mau. Bisa saja ditafsirkan dengan hubungan antarteman, hubungan dengan atasan, nilai-nilai yang berbeda, atau bahkan penghasilan yang diterima. Menyukai apa yang kita kerjakan, kadang rasanya tak cukup untuk menahan kita bekerja di suatu tempat. Eits, tunggu dulu. Jangan dulu beranggapan bahwa orang yang berharap “sesuatu” dari tempat kerjanya bukanlah orang idealis. Hmm…menjadi idealis bukan berarti “berkorban” hingga sebesar-besarnya kan, sampai-sampai mungkin merugikan diri sendiri.

Menurutku ada banyak alasan orang memilih untuk bekerja. Ada yang merasa berguna jika ia bekerja, ada yang memenuhi panggilan hidupnya, ada yang bekerja untuk mencari nafkah demi penghidupan yang lebih baik, dan banyak lagi alasan-alasan personal lainnya. Nah, ada banyak alasan pula mengapa orang memilih untuk berpindah tempat kerja. Sah-sah saja kan jika seseorang mencari tempat kerja yang nyaman baginya. Meski demikian, ada pula temanku yang beranggapan bahwa di setiap tempat kerja, pasti ada tantangan yang harus dihadapi. Lamanya pencarian akan kenyamanan itu memang berbeda bagi tiap-tiap orang dan ukuran “nyaman” pun tentunya relatif. Semua itu amat sangat subjektif dan personal.

Sebenarnya latar belakang aku menulis ini adalah karena wacana yang berkembang di tempat kerja. Denger-denger ada sekitar 7-8 rekan kerjaku (part-timer & full-timer) yang sedang mempertimbangkan atau bahkan sudah ada yang pasti, memutuskan untuk berkarya di tempat lain. Kata pertama yang terlintas adalah “salut”. Mengapa salut? Well, menurutku mereka telah berhasil mengambil satu pilihan yang untukku pribadi terasa sulit. I truly hope they are getting closer to reaching their dreams. Ketujuh/kedelapan temanku ini adalah orang-orang dengan potensi besar yang masing-masing sedang menjajaki panggilan hidupnya. Salut rasanya ketika mengetahui mereka akhirnya dapat memutuskan untuk mengambil pilihan yang mungkin sudah digumulkan cukup lama.

Kemudian aku bertanya, apakah aku tidak salut terhadap teman-temanku yang memutuskan untuk tetap tinggal di lingkungan yang lama? Oh, tentu tidak. Aku pun salut kepada mereka. Mungkin memang mereka memilih untuk tinggal. Aku tak tahu tingkat kenyamanan yang mereka rasakan, namun aku pun salut mereka tetap punya harapan. Harapan bahwa tempat itu akan berubah mungkin, atau mungkin harapan bahwa suatu saat mereka pun akan mendapatkan pekerjaan di tempat lain hehehe…

Well, harapan itu selalu ada. Aku salut bahwa harapan membuat mereka bertahan. Mereka tetap menunggu dan terus melakukan apa yang harus mereka lakukan.

Aku akan amat kehilangan teman-temanku. Mereka telah memberi warna dalam kehidupanku. Saat mereka pindah tentu akan ada kehilangan, namun mudah-mudahan komunikasi akan terus berjalan. Selamat menapaki jalan yang baru, kawan. Semoga kalian semakin dekat dengan mimpi itu. Buat kawan-kawan yang tinggal, jangan berhenti berharap ya, apapun itu harapan kalian :)

*Dedicated to my colleagues

 

Sekolah (tak) hanya demi selembar ijazah February 13, 2010

Filed under: my work,my world — goresanika @ 6:39 pm
Tags:

Kurang lebih tiga setengah tahun sudah kutekuni perjalananku sebagai seorang guru. Sebuah profesi yang kupilih untuk kujadikan jalan hidupku (setidaknya sampai hari ini). Dulu, sebelum kupilih untuk menjadi guru, rasanya aku memang telah jatuh cinta dengan profesi itu. Aku masih ingat, waktu kecil salah satu cita-citaku adalah menjadi guru TK. Entah mengapa, tapi mungkin karena aku memang suka berada di antara anak-anak. Karena dorongan itulah waktu aku kuliah, aku memutuskan untuk bergabung dengan LSM Edukasi Dasar dan menjadi relawan guru di sana. Di sana aku berhadapan dengan sebuah realita pahit kehidupan saat melihat begitu banyak anak yang putus sekolah karena harus membantu orang tua mencari nafkah dengan menjadi pemulung. Dengan mata kepala sendiri kulihat anak usia tiga hingga belasan tahun menenteng karung dan berjalan menyusuri pinggiran kota demi mendapat gelas dan botol plastik. Syukur-syukur mereka bisa menemukan potongan besi yang tentunya lebih mahal saat dijual.

Di LSM Edukasi Dasar-lah aku bertemu dengan anak-anak belasan tahun yang mungkin menganggapku seperti seorang kakak, meskipun mereka menyapaku dengan sebutan “Bu”. Salah satu anak yang cukup dekat padaku adalah “B”. B adalah anak ketiga dari 8 bersaudara. Waktu aku mengajarnya di LSM, ia termasuk yang cukup mudah menerima materi. Sayangnya kadang ia malas untuk datang. Ia serta beberapa anak yang lain kuajarkan materi-materi kelas 4, 5 atau 6, karena mayoritas dari mereka putus sekolah dari SD sekitar kelas 4. Dengan semangat dan idealisme para relawan, kami dorong mereka untuk ikut ujian Paket A (ujian kesetaraan SD). Dengan berapi-api kami jelaskan pada mereka manfaat ijazah, dengan harapan suatu saat mereka juga akan mengikuti ujian Paket B dan C. Sayang seribu sayang, dengan kesibukan para relawan setelah bekerja, kami tak mampu lagi menyediakan waktu untuk datang dan mengajar di LSM. Aku tak tahu seberapa besar semangat B dan teman-temannya tersisa untuk terus belajar demi mendapat ijazah.

Beberapa waktu lalu aku bertemu B di situs jejaring sosial Facebook. Sebelumnya sering kudengar kabar kalau ia menjadi kenek angkot yang disupiri kakaknya. Betapa senang rasanya bisa mengetahui bahwa B baik-baik saja, tapi kini ia bilang ia tak lagi bekerja. Ia bahkan mengharapkan aku bisa membantunya mencari kerja, kerja yang tanpa memerlukan ijazah. Ingin sekali aku bisa membantunya, namun aku sendiri pun tak tahu kerja macam apa pada masa kini yang tak perlu ijazah. Kalaupun ada, tentunya tanpa gaji yang layak. Yang bisa kukatakan padanya hanyalah bahwa aku akan menghubunginya jika ada lowongan yang kudengar.

Sering ku berpikir, apa memang kita masih menganut pendapat sekolah hanya demi selembar ijazah. Jika pada kasus B, memang selembar ijazah akan sangat membantunya memperoleh penghidupan yang lebih layak. Namun sesungguhnya, selembar ijazah tak sanggup memberikan pelajaran hidup yang cukup bagi seorang anak. Keseharianku kini bagai menghadapi dilema. Aku adalah seorang wali kelas 6. Beberapa bulan ini mereka akan menghadapi UASBN. Sungguh aku kecewa dengan kurikulum nasional yang amat content-oriented. Begitu banyak materi yang harus mereka kuasai namun hampir semuanya tanpa pemahaman yang mendalam. Bagaimana mungkin mereka bisa memahami semua materi yang disyaratkan dengan mendalam jika dalam 6 tahun mereka belajar, ada segudang hal yang harus mereka hapalkan? Bagi orang dewasa saja hal itu tak mungkin dilakukan. Pada murid-muridku selalu kukatakan bahwa belajar adalah suatu hal yang tak ada putusnya. We are life-long learners. Namun demikian, tak jarang juga dari bibirku terucap ungkapan-ungkapan yang “hanya” berorientasikan pada kata “lulus” dan “ijazah”. Duh, dilematis rasanya. Aku tak ingin mereka punya pikiran bahwa sekolah itu “hanya” demi selembar ijazah. Sekolah punya makna yang jauh lebih dalam. Kuharap, pada saatnya nanti mereka mengerti bahwa kita sekolah tak hanya demi selembar ijazah. Ijazah memang penting, namun bukan itu tujuan sebuah lembaga bernama “sekolah” dibuat. Sekolah ada untuk mengasah pikiran dan hati. Sekolah ada untuk merayakan pengetahuan. Sekolah ada untuk mendidik manusia mencintai ilmu. Guru ada demi membantu murid-muridnya menemukan jalan hidup yang ingin mereka tapaki…

 

New challenges are about to come… July 11, 2009

Filed under: my work — goresanika @ 10:59 am
Tags: ,

Yep, that’s how I feel. The new challenges I meant were the unknown situations I might face with my 6th graders. After 3 years of teaching lower primary, I am expected to teach in Grade 6 this year. What a burden, I thought. It was non-negotiable my Academic Division Head. Oh well…I can’t keep feeling sorry for myself. I need to earn my ticket to complete this year smoothly. That means I need to work hard and find possible solutions for problems that may occur. Don’t get me wrong, I’m not always a pessimistic person. I don’t think that my students are trouble makers, it’s more about me not being ready to teach older students. Here are some of my concerns:

  1. How to build a caring community?
  2. How to encourage them to manage their emotions?
  3. How to make sure that both PYP and the national curriculum are served well?
  4. How to encourage them to be responsible and respectful individuals?
  5. Do I need a reward and consequence system?
  6. How to teach them to behave well without expecting extrinsic reward? I want them to do something good not because they will get a reward, but because they believe that that’s the right thing to do.

So, today…I browsed the net to find advices. Luckily I found this blog http://mrpullen.wordpress.com. It has a lot of good suggestions I want to try. I think it’s really important to change my approach with the students this year. I don’t think the reward system I used last year in Grade 3 will work. I need to focus more on building the sense of belonging as a class. I want them to feel that they are a part of a caring family. I want them to see that every member needs to be appreciated and that everybody is unique in their own way.

*Sigh*…a long journey awaits and I hope I prepare myself well for this…

This website looks interesting too. Teachers may want to check it out http://www.responsiveclassroom.org/

 

Thank you guys… June 19, 2009

Filed under: my work,my world — goresanika @ 5:14 pm
Tags:

Tidak terasa, ternyata sudah hampir setahun aku bersama-sama mereka. Masa-masa senang, masa-masa sedih, kejadian-kejadian lucu dan mengesalkan yang kita lewati ternyata begitu bermakna buatku. Murid-muridku sudah akan beranjak ke kelas 4. Wah, cepat sekali mereka tumbuh. Aku pasti kangen dengan celotehan-celotehan kritis Moniq, humor Disa dan Putri, Deby yang selalu mengekorku, Reina dan Anggita yang sangat matang kemampuan verbalnya, si Andra yang selalu calm, dan Ara yang sering panik namun bisa jadi reminder yang baik. Ada yang hilang rasanya jika dalam satu hari tak kudengar pertanyaan-pertanyaan Rian akan banyak hal, Jonathan yang selalu berbagi pengetahuannya tentang binatang, Clement yang knowledgeable dan sering memberi komentar tentang materi pembelajaran, Afi yang selalu punya semangat tinggi, Fauzan yang mandiri, Franklin yang pendiam, Christopher dan Anggie yang selalu helpful, dan Hummel yang selalu caring.

Semoga kebersamaan satu tahun ini juga bermanfaat buatmu ya, Nak. Selamat liburan semuanya!!! Have fun…

Hmmm…jadi wondering, tahun ajaran depan, aku ngajar kelas berapa ya? Semoga lower primary *crossing fingers*…

 

Communicate, please! May 3, 2009

Filed under: my work,my world — goresanika @ 1:03 pm
Tags:

Hmm…dua minggu yang panjang itu akhirnya berakhir. Keengganan untuk berangkat emang nggak bisa dielakkan. Nggak ada pilihan memang, jadi ya sudahlah, aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Terbayang beban moral yang ada, meskipun semua orang bilang cuekin aja. “Just do what you think is right,” so they said.

Minggu ini, hidupku kembali pada siapa diriku di Jakarta. Senangnya bertemu lagi sama Si Cinta, ngajar anak-anak, ya…semua peranku di sini. Memang blum ada permintaan tanggung jawab dari Si Boss, tapi kayaknya memang harus bersiap-siap menghadapi bombardir tugas darinya. I don’t know whether I can handle the so called added responsibility, but I guess at least I have to payback my trip and the new knowledge I got by having it.

Tapi paling tidak, bukan cuma aku yang berpikir bahwa pola komunikasi Si Boss harus diubah. Titah tak lagi mempan, Boss. Well, mungkin mempan, tapi apa bisa membuat orang melakukan sesuatu dengan ikhlas? Rasanya, Boss harus belajar mendengarkan orang lain. Respect should be earned and I guess fear is different from respect. Can’t you see that people are not comfortable anymore? C’mon Boss, try to put yourself in our shoes. We’re so overloaded.

Oh well…maybe you got wrong impressions, Boss. Don’t just listen to the report they gave you. Check it first, please. And please, communicate with us in a non-threatening way. After all, communication involves listening skills to, doesn’t it?

 

Reflection & Resolution December 23, 2008

Filed under: my work,my world — goresanika @ 1:09 pm
Tags:

“By three methods we may learn wisdom: First, by reflection, which is noblest; Second, by imitation, which is easiest; and third by experience, which is the bitterest.” (Confucius)

Year 2009 is only a few days away. It is within these days usually people take time to reflect on what they have done in 2008 and think about the resolution for 2009.

I think the capability of human beings to reflect is one of the most wonderful gifts our race have been blessed with. I mean, other living things can’t reflect, can they? Humans have the capability to review things they have done in order to infer meanings, to find values in their actions.

As I reflected my life, especially in 2008, I found that there were many many things I haven’t been able to do. I forgot my promises to myself and basically my things to do in 2008 (which I set up early in January 2008) were all just in the list, none was transformed into actions. Sad, isn’t it? Yeah…I know. It’s sad not to be able to keep promises to yourself.

So…how about 2009? Well…I’m starting to think about things I want to be able to do next year. Here are some in my list:

  • I want to be more organized. I realize that many times I can’t get myself organized and it’s killing me if I have to do a lot of things in hurry. My disorganization brings me to troubles. I’m crossing my fingers to be organized next year, whether in my personal life, as well as at work.
  • I want to spend quality time with my loved ones. I’m not really good at maintaining relationships, so…I guess I should focus on this one next year.
  • I want to trust “him” more. Yeah…as a possessive person (and I’m aware of that very much), I can feel that sometimes I treat “him” unfairly. I’m very much lucky to have someone that can understand me. I mean, it’s time for me to show him that I can stop my jealousy, which sometimes can be so ridiculous. So sorry, Hun!
  • I want to develop my talents & interests. I realize that my love towards writing and reading can still be developed even more. Thanks to blogs, that I can develop my writing. I’m thinking about bringing it to more “serious” level. I don’t know yet, but I think I can start thinking about writing more regularly. Maybe I can start writing articles for newspapers/tabloids. (I still don’t have a clear vision about this yet, but I’m working on it )

This list can still be added and I think we can set our goals not only at the beginning of the year. We can always review and revise.

Going back to reflection, a few days ago I read an article in the newspaper talking about providing time for students at school to reflect. The writer suggested this activity to be carried out several minutes befor students go home. He argued that this habit can be useful to decrease violence.

For me this suggestion is worth to try. We’re all fed up with violence and destructions portrayed in TV. Many people are easily angry these days. Even our role models, such as teachers, can get trap and demonstrate violence towards their own students. As a teacher I just can’t understand this phenomenon. Violence is not an answer. It is not an option. I think students, even from early years should be given chance to reflect on whatever things they do. Reflecting as a habit should be introduced. By being able to reflect, humans can try to better him/herself everytime.

I hope we all can take time to reflect on our life and think about our passion that we forget along the way. I hope you discover your own passion.

Happy reflecting…

 

On being a teacher September 13, 2008

Filed under: my work — goresanika @ 3:42 pm
Tags: ,

After more than 2 years of being a teacher, sometimes I ask myself what’s exactly I’m looking for. Sometimes the answer comes clearly to my mind. Sometimes it’s just hidden somewhere in my head.

When I decided to be a teacher, I wasn’t really sure about it. Well…I know I love children. I’ve been teaching children since I was in the last year of college. I just knew at that time that I want to build a school and being a teacher is a media of learning. At that time I just felt an urge to give it a try. Luckily I was accepted in a new school. I learned step by step on how to be a teacher. I had a lot of mentors I could discuss matters with.

My first year was full of observation. I worked as an assistant teacher for Grade 1 students. It was a period of getting to know the tasks of a teacher as well as getting to know myself better. I knew I couldn’t be firm sometimes. My students loved me, well….it was because I hardly got angry hahahahaha….

The second year was a challenge. I was trusted to be a homeroom teacher for the third graders. I felt overloaded. I think I was shocked by the load that I had to face.

In my third year, I must say it wasn’t as difficult as last year. I’m still a homeroom teacher for Grade 3. Maybe that’s why it feels easier now. I know the situation and the materials quite well now. Sometimes I’m pessimistic though. I often think whether what I tell my students will help them in their journeys of life. It’s impossible, I know, to see the result of my teaching now. I just need to keep believing that what I do know is going to be useful for them someday. I keep saying that during my difficult days. I believe that it’s a duty of teachers to help students find their own path. We have to encourage them becoming independent learners. A wise saying even says “A teacher is one who makes himself progressively unnecessary.” (Thomas Carruthers)

Can I be like that? Can I help my students to find their true callings in life and encourage them to walk their own paths? Teachers should be unnecessary eventually. Learners should be able to master the skills taught by teachers then develop their skills themselves. We should teach them how to do it then fade away. Let them take control.

I think I know why I want to be a teacher…

I post here one of my favourite videos, titled “Teachers Are Like Mirrors”. It’s about how teachers are essential in helping students to develop a positive self image. Enjoy…


 

On Inquiry September 1, 2008

Filed under: my work — goresanika @ 7:57 pm
Tags:

As a part of our professional development, today the teachers at my school got a training about INQUIRY. I’ve been dealing with inquiry-based learning for about 2 years, and still I get confused now and then to teach with this method.

If we think about it, actually humans, especially children, are natural inquirers. Children always ask questions, don’t they? But sometimes, as adults, we ignore those questions. If we are busy and feel disturbed, we tend to tell the children to stop asking things. Poor them…

From today’s training, I got a lot of information I would like to digest even more. I really want to apply the strategies taught. I really want my students to be inquirers. I want them to ask questions, find out something new and even come up with solutions. I guess the teachers are the ones to be inquirers first. They copy us, don’t they. So teachers, modelling is important!!!

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 80 other followers