Jogja selalu bikin kangen. Meskipun udah berkali-kali ke Jogja, rasanya nggak pernah bosen dan selalu ada cerita baru dari Jogja.
Petualangan Ikachu kali ini dimulai tanggal 25 Feb Malam. Bersama Si Cinta dan 2 orang teman lainnya, kami berangkat dengan kereta Senja Utama Solo yang berangkat jam 20.30 dari Stasiun Senen. Untungnya kami nggak perlu menunggu lama. Tak lama setelah tiba di Senen, kereta yang ditunggu datang.
Rasanya pengalaman terakhir naik kereta itu waktu kelas 3 SMA, study tour ke Jogja. Saking sudah lamanya, Ikachu sama sekali nggak inget suasana di kereta. Anyway, suasana di kereta bisnis cukup riuh rendah. Banyak sekali penumpang yang berdiri yang pada akhirnya menyerah dan mulai lesehan di lantai. Memang orang Indonesia itu hebat ya. Meskipun tergencet-gencet, nggak ada tuh, penumpang yang merasa tersinggung kalau tersenggol berkali-kali. Luar biasa ya, perjuangan orang Indonesia demi pulang kampung.
Perjalanan cukup lancar, meskipun kereta cukup lama berhenti di Cikampek. Nampaknya banyak oknum-oknum tak bertanggung jawab yang nggak beli karcis, jadi di Stasiun Cikampek berulang kali petugas berkata dengan pengeras suara agar orang-orang yang nggak beli tiket sadar diri dan beli tiket di situ. Well, nggak tahu juga sih, apakah akhirnya petugas berhasil menangkap oknum-oknum tersebut, yang pasti setelah menunggu sekitar 30-45 menit, kereta kembali meneruskan perjalanan.
Bangun, tidur, bangun, tidur.
Suasana di kereta yang riuh rendah tak mampu mengusir kantuk, akhirnya Ikachu sempat tidur juga, meskipun jauh dari nyenyak. Tapi paling tidak ada beberapa saat dimana Ikachu bisa mengistirahatkan mata sejenak.
Setelah sekian jam, akhirnya kereta sampai juga di Jogja sekitar pukul setengah 8. Sangat telat jika dibandingkan dengan jadwal yang seharusnya, sekitar setengah 6. Dengan terburu-buru (karena kebelet pipis), kami berjalan menuju losmen yang sudah di-booked di daerah Pasar Kembang. Pasar Kembang? Yup, THE Pasar Kembang. I know that it’s a red district, but finding a place to rent in holiday season is never easy, right? So, meskipun dari berbagai sisi ada kekurangan-kekurangan, kami masih bisa dibilang beruntung karena bisa menemukan penginapan saat long weekend. Setelah mandi, kami siap-siap mencari sarapan. Pilihan kami jatuh pada sebuah restoran kecil dekat losmen. Kami sengaja memilih tempat yang dekat, karena sebentar lagi mobil yang kami sewa akan datang. Selesai menyantap gudeg (yang sebenarnya cukup mahal untuk ukuran Jogja), kami kembali ke losmen dan mobil Avanza sewaan sudah menunggu bersama Pak Supir. Off we went. Agenda hari itu adalah keliling pantai di Wonosari. Eh, ndilalah di perjalanan si Avanza ngambek, mogok. Jadilah kami menepi. Pak Supir dengan telaten menelepon bosnya untuk mengirim mobil pengganti. Setelah menunggu hampir 1 jam, akhirnya si bos datang dengan Xenia. Fiuh, penantian yang penuh dengan peluh pun berakhir. Wonosari yang terkenal dengan tanjakan bisa ditaklukan oleh si Xenia. Tujuan pertama kami adalah Pantai Baron. Pantai Baron bersama dengan 5 pantai lainnya terletak berdekatan, jadi dalam sehari kita bisa keliling ke beberapa pantai. Baron cukup ramai. Meskipun tak sepopuler Parang Tritis, Pantai Baron menjadi sebuah kawasan wisata alternatif. Pantainya unik, karena ada bagian pantai yang terpisah dengan laut dan tak berombak. Anak-anak banyak memilih untuk berenang di sini. Bagian laut yang lebih terbuka jadi pilihan untuk anak-anak ABG. Ombak di Baron cukup besar, hingga ada satu bapak penjual kalung mengingatkan beberapa remaja yang sedang asyik bercanda untuk bergeser sedikit, karena tempat mereka berdiri merupakan salah satu daerah pertempuran ombak.
Di Baron kami sempat minum es kelapa. Seger luar biasa, di tengah terik matahari yang membuat kulit muka menjadi merah. Dari Baron kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Krakal. Menurut si bapak penjual kalung, Pantai Krakal adalah pantai yang paling bagus. Karena penasaran, jadilah kami ke sana. Jarak Krakal dari Baron tidak jauh, hanya sekitar 20-30 menit perjalanan. Berbeda dengan Baron, Krakal bisa dibilang sangat sepi. Tak banyak turis yang memilih ke sini. Krakal memang indah, tapi ketinggian ombaknya membuat Krakal tak mungkin digunakan untuk tempat berenang. Karang-karang yang besar membuat perahu juga tak mungkin berlayar dari situ. Kalau Baron berpasir hitam, Krakal berpasir putih. Di Krakal banyak sekali obyek foto yang menarik. Lanskap di Krakal memang tak ada duanya. Tak heran si bapak penjual kalung merekomendasikan Krakal sebagai pantai tercantik. Di Krakal Ikachu banyak ambil foto. Rasanya tiap sudut pantai bisa jadi obyek yang menarik. Setelah puas, kami memilih untuk pulang, karena takut kesorean. Medan Wonosari cukup sulit dilewati, makanya kami nggak mau Pak Supir kerepotan mengendalikan si Xenia di malam hari.
Petualangan hari kedua.
Hari kedua kami bangun agak siang. Setelah mandi, kami siap-siap mencari makan. Pilihan jatuh pada penjual nasi rames di depan Mal Malioboro. Lezat & murah! That’s what I like about food in Jogja
. Setelah sarapan, kami memutuskan untuk mencicil membeli oleh-oleh. Mirota batik jadi tempat yang wajib dikunjungi. Memang sih, barang-barangnya agak mahal, tapi suasana belanjanya nyaman dan pilihannya pun banyak. Dari Mirota, kami lanjut ke Pasar Bringharjo. Denger-denger, harga-harga di situ lebih murah daripada di Malioboro. Setelah memborong kaos dan blus batik, kami memutuskan untuk ke Prambanan naik Trans Yogya. Trans Yogya merupakan transportasi yang cukup baru di Yogya. Idenya mirip dengan Transjakarta, tapi Trans Yogya tak punya jalur khusus. Haltenya pun jauh lebih kecil dari Transjakarta. Tapi ada satu hal yang dimiliki Trans Yogya yang nggak dimiliki Transjakarta: kantong plastik untuk muntah! Hahaha…serius! Lucu banget ya! Very thoughtful! Perjalanan ke Prambanan sebenarnya tidak terlalu lama, tapi di Shelter Janti, kami sempat menunggu lama karena sempat ada bus yang terlambat.
Setiba di Prambanan, kami memutuskan untuk makan dulu. Untungnya kami menemukan angkringan. Nggak afdol rasanya kalau ke Jogja nggak makan angkringan. Ikachu memutuskan memilih kupat tahu. Pedasnya mantabssss!!! Dengan perut kenyang, kami lanjutkan perjalanan dengan andong. Harga standar andong hingga ke pintu masuk Rp 20.000,00. Tiba di pintu masuk, kami membeli karcis dan memutuskan untuk beristirahat sebentar. Prambanan puanaaaaassss luar biasa. Untung kami membawa payung. Setelah beberapa waktu beristirahat, mulailah hunting foto dimulai.
Candi-candi di Prambanan luar biasa cantiknya. Memang ada beberapa candi yang diberi pagar dab tak boleh dimasuki, tapi masih ada candi-candi yang boleh didaki dan dimasuki. Di Prambanan kami menghabiskan waktu cukup lama. Puas rasanya mengabadikan kecantikan Prambanan. Rasanya di situlah Ikachu terbanyak mengambil foto. Dari Prambanan, kami pulang dengan Trans Yogya. Ternyata di tengah perjalanan kami diberitahu jika Jalan Malioboro ditutup karena ada acara Pekan Budaya Tionghoa, sehingga kami harus turun di halte Taman Pintar. Jarak dari Taman Pintar ke losmen cukup jauh, tapi ya sudahlah. Di sepanjang perjalanan orang-orang sudah bersiap-siap menyaksikan karnaval. Karena penasaran, selesai mandi di losmen, kami buru-buru kembali ke Malioboro. Untung saja waktunya tepat! Pertunjukan Liong terpanjang baru saja dimulai. It was great! Meskipun harus struggling mendapatkan posisi untuk mengambil foto, Ikachu dapat beberapa foto yang cukup representatif :p.
Selesai menonton karnaval, kami putuskan untuk belanja oleh-oleh. Kami mampir ke toko Kawedar untuk beli bakpia dan wingko. Bakpianya tidak terlalu mahal, sekitar Rp 18.000,00 – Rp 20.000,00. Oya, malam itu di Malioboro kami beruntung banget bisa menyaksikan satu grup seniman yang menamakan dirinya “Calung Punk”. Dengan alat-alat musik tradisional yang di-combined dengan alat musik modern, mereka membawakan lagu-lagu daerah. Mantabs banget deh! Luas biasa kreatif! Akhirnya kaki yang lelah nggak bisa diajak kompromi. Niatan untuk ke tugu batal karena hari itu badan rasanya pegal luar biasa.
Pagi terakhir di Jogja.
Tanggal 28 Feb merupakan pagi terakhir di Jogja. Jadwal keberangkatan kereta Fajar Utama jam 7.30. Karena itu sejak jam 6.00 kami sudah berburu sarapan. Pilihan Ikachu jatuh pada bubur ayam. Bubur ayam Jogja agak sedikit beda. Kaldu ayamnya lebih kental, tapi memang porsinya lebih sedikit dari bubur ayam di Jakarta. Kami menikmati sarapan sambil menonton senam pagi massal warga Jogja. Hari itu Malioboro ditutup untuk kegiatan senam pagi. Selesai makan, kami buru-buru kembali ke losmen dan checked out. Untunglah stasiun tidak jauh dari losmen. Tas-tas bertambah berat dengan oleh-oleh, khususnya 6 kardus bakpia hehehe. Perjalanan dengan Fajar Utama Yogya cukup on time. Silih berganti pedagang asongan menawarkan jajanan, namun penumpangnya tidak sebanyak penumpang saat perjalanan ke Yogya. Sekitar pukul 17.30 Ikachu sampai di stasiun Jatinegara. Saat menginjakkan kaki di sana, Ikachu udah kangen Jogja lagi. Jogja, I love you…












Recent Comments