Dan hati pun tak imun dari rasa jenuh. Sebagaimana terungkap siang itu, kau bilang kau jenuh dengan rutinitas kita. Kau tegaskan bahwa kau tak jenuh pada hubungan kita, namun pada aktivitas yang kita lakukan bersama tiap harinya.
Aku paham keduanya berbeda, namun tetap saja tak mudah mengatakan pada diri sendiri bahwa itu dua hal yang berbeda. Limbung rasanya duniaku. I should have seen it coming and i blame myself for not taking action to precaution it.
Aku tak bermaksud membuatmu merasa bersalah. Sungguh, jika reaksiku emosional, kuminta maaf.
Sakit memang… Kucoba menerjemahkan dan mencerna setiap kata yang kau ungkapkan. Sekuat hati kucoba meyakinkan diriku bahwa kita akan baik-baik saja, bahwa kita akan menemukan jalan keluar yang terbaik.
Mungkinkah kesedihanku berlebihan? Ah, aku tak tahu. Saat ini bagiku itu terasa wajar. Mungkin memang aku masih beruntung, karena ini bukan akhir hubungan kita, tapi sakitnya tak bisa kubedakan. Tentu perih, tentu muncul berbagai pertanyaan. Akankah kita sanggup melaluinya?
Hati tak imun dari jenuh, namun kuharap cinta dapat menuntun kita menuju sebuah solusi.
Like this:
Be the first to like this post.
Recent Comments